Showing posts with label inovasi. Show all posts
Ramah Lingkungan, Kurangi Pencemaran Hingga 80 Persen
Cara Mengolah Limbah Batik Dengan Jamur Kayu Lapuk
BANYAKNYA industri batik yang berkembang di 'Kota Batiknya Dunia'. Belum dibarengi dengan kesadaran penanganan Pencemaran limbah batik yang ditimbulkan. Limbah batik belum diolah secara optimal, agar dampak pencemarannya terhadap lingkungan bisa dikurangi. Apakah itu industri batik dalam skala rumahan, ataupun besar. Banyaknya kendala yang dihadapi untuk mewujudkan niat mengolah limbah batik menjadi lebih ramah lingkungan. Mulai dari besarnya biaya pembuatan instalasi pengolah limbah (Ipal), hingga persoalan minimnya lahan untuk membangun prasarana dan sarana pengolah limbah. Hal inilah yang melatarbelakangi sebuah tim kecil yang dikomandani Abu Ayyash, warga Kelurahan Panjang Baru RT 4 RW 5 Kecamatan Pekalongan Utara. Ayyash, yang juga merupakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Front Pembela Islam (FPI) Kota Pekalongan, bersama tiga anggota timnya, masing – masing Ibnu Aidy, Cherik AG, serta Tufail, mencoba membuat inovasi untuk mengatasi permasalahan limbah batik.
Akhir
tahun 2012 lalu, mereka telah mengusulkan kepada Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat tentang pembuatan instalasi
pengolahan limbah batik yang ramah lingkungan. Metodenya, adalah
pengolahan limbah dengan memanfaatkan jamur kayu lapuk dengan skala
industri rumahan. Maka, proposal berjudul 'Membuat instalasi pengolah
limbah batik melalui pemanfaatan teknologi fermentasi berbahan jamur
kayu lapuk berskala industri rumahan dalam upaya mendukung program clean
development mechanism di Kota Pekalongan, mereka usulkan ke Bappeda.
Hibah Bersaing
Kegiatan
yang terangkum secara rinci dalam proposal itu, diusulkan untuk
mengikuti program kegiatan 'Hibah Bersaing' tahun 2012 yang
diselenggarakan Bappeda Kota Pekalongan, kisaran November 2012. bappeda
akhirnya menyetujuinya. Hingga kemudian, pengolahan limbah batik dengan
memanfaatkan jamur kayu lapuk diujicobakan secara nyata di lapangan pada
sebuah lahan milik pengrajin batik di Kradenan, Pekalongan Selatan.
Hasilnya, cukup memuaskan. Pembuatan instalasi pengolah limbah yang
mereka usulkan mendapat apresiasi, yakni menjadi salah satu pemenang
kegiatan hibah bersaing. Meski belum teruji secara klinis, namun dilihat
secara fisik, kepekatan warna air limbah batik bisa dikurangi hingga
sekitar 80 persen. Ditemui di rumahnya yang cukup sederhana. Abu Ayyash
membeberkan mengani mekanisme sistem kerja dari awal, pembuatan
instalasi pengolah limbah yang ia kembangkan bersama timnya itu.
Murah, Mudah
Menurut
dia, apa yang sudah ia lakukan bisa diaplikasikan oleh siapa saja,
terutama para pengrajin batik yang ingin agar efek pencemaran limbah
hasil industrinya terhadap lingkungan bisa dikurangi. “Selain biayanya
relatif murah, mudah diaplikasikan, juga ramah lingkungan,” kata Ayyash,
(14/3). Dalam ujicoba di sebuah home industri batik milik seorang
pengrajin di Kradenan, besaran biaya dari sejak instalasi, pembelian
bahan – bahan dan material, hingga upah tukang sebesar Rp 10 juta. Itu
selesai dikerjakan dalam waktu lima hari. Sementara, bak pengolah limbah
yang diujicoba menampung sekitar 1.500 liter air. “Kalau ingin lebih
ideal lagi, total dana yang dibutuhkan sekitar Rp 17 juta hingga Rp 20
juta,” imbuhnya.
Ia
memaparkan, prinsip kerja pengolah limbah yang ia kembangkan merupakan
perpaduan metode biologis dan fisika. Material yang digunakan antara
lain jamur kayu lapuk (sebagai degradator / pengurang zat warna),
bebatuan vulkanik (sebagai penyaring), batu zeolit (sebagai penjernih),
dan karbon aktif (penetralisir bau). Dipakai pula material 'chithosan',
yang merupakan pecahan atau serbuk kulit kerang maupun udang. “Bahan ini
berfungsi untuk mengurai logam berat yang terkandung dalam air limbah,”
jelasnya. Secara garis besar, Ayyash menjelaskan, ada lima tahapan yang
dilalui dalam instalasi pengolahan limbah yang dikembangkannya, yakni
pengendapan (presipitasi), dekolorisasi, dekomposisi, detoksifikasi,
serta filterisasi.
Tahap
pengendapan, air limbah ditampung dulu dalam bak penjebak. Tujuannya
untuk memisahkan partikel zat warna batik agar bisa terurai secara
fermentasi. Dalam bak tersebut, dikasih kapang (sejenis jamur). Dari bak
pertama, air limbah masuk ke bak kedua yang berisi bebatuan vulkanik.
Melalui pori – pori bebatuan ini, proses penyaringan sudah terjadi.
Antara air dan zat warna sudah mulai terpisah. “Selanjutnya, air limbah
dialirkan ke bak ke tiga, berisi chithosan untuk memisahkan logam
berat,” sambungnya. Dijelaskannya, hingga tahap ini, sudah terjadi
proses 'dekolorisasi'. Yaitu pengurangan kandungan zat warna secara
degradasi.
Tahap
selanjutnya, mengalirkan limbah pada bak penampungan yang dikasih media
batu zaolit. Dari sinilah, perubahan zat warna sudah tampak jelas.
Sebelumnya, jelas Ayyash, zeolit sudah diproses melalui 'fotokatalisasi'
dengan jamur yang sudah dicairkan. “Kita memanfaatkan ultraviolet dari
sinar matahari dalam proses fotokatalisasi ini,” ungkapnya. Fase
berikutnya, adalah 'detoksifikasi' atau pengurangan kandungan racun di
limbah. Yakni memakai karbon aktif. Selanjutnya pada fase terakhir,
proses dekomposisi. Yaitu penyempurnaan pengolahan limbah dari zat
an-organik menjadi zat organik yang ramah lingkungan. Prosesnya
menggunakan kapang.
Sehingga,
tandas Ayyash, hasil buangan limbah di samping sudah tampak lebih
bersih, juga kadar COD (chemical oxygen demand) dan BOD (biologycal
oxygen demand) pada air limbah menjadi rendah. “Ini sudah sangat adaptif
bagi mikroorganisme maupun biota air. Tingkat pengurangan zat warna
pada limbah batik sudah mencapai 80 persen. Bisa ditambah lagi dengan
tahap penyempurnaan, “ujarnya. Ayyash mengharapkan, dalam waktu dekat,
ada uji klinis terhadap air limbah yang telah diolah melalui metode yang
sudah diujicobanya itu. Untuk selanjutnya, bisa diterapkan industri
batik di Kota Pekalongan. “Yah, semoga saja teknologi ini nantinya akan
diterapkan dalam skala besar dan meluas. Pertama di industri tekstil,
mungkin saja nantinya bisa meluas ke pengolahan limbah industri yang
lain. Jadi nantinya benar – benar bisa terwujud industri – industri yang
ramah lingkungan,” harapnya, mengakhiri perbincangan. (way)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 15-03-2013)
Siswa SMP 8 Pekalongan Juara Kontes Robotik
PEKALONGAN
– Siswa SMP 8 Kota Pekalongan mengangkat nama sekolahnya dalam lomba
kontes robotik tingkat Jateng di Semarang, baru – baru ini. Tim robotik
yaitu, Eiden Ilham (13) dan Jibril M Agassi (13), meraih prestasi dalam
dua event sekaligus. Keduanya meraih juara III dalam lomba Robot Vaganza
di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Kemudian, dalam kontes
robotik yang dikemas dalam Smart Robotic Competition Semarang, berhasil
menjadi juara II. Masing – masing mendapatkan piala, dan ruang
pembinaan.
Menurut
Kepala Sekolah SMP 8, Zaenal Muhibin, sebelum mengikuti lomba, siswanya
mengikuti workshop robotik di SMA Bernadus Pekalongan. Hal itu
bertujuan agar siswa melek tekhnologi. Sekolah lalu mengirinkan peserta
dalam lomba robotik, ternyata anak – anak mampu menorehkan prestasi.
“lomba itu diikuti siswa se-Jateng. Kendati baru pertama ikut lomba
kontes robot, siswa SMP 8 mampu membawa pulang piala,” terang Zaenal
Muhibin didampingi Waka Kesiswaan Lilik Martoyo, baru – baru ini.
Kekompakan Tim
Atas
prestasi itu, pihak sekolah berkomitmen mendorong siswanya, agar ke
depan mampu berprestasi dalam kegiatan lain. Di samping itu, lanjut dia,
dunia robotik bisa dikembangkan di sekolah. Bakat yang dimiliki Eiden
dan Jibril dapat ditularkan kepada teman – temannya. Eiden mengaku
bangga atas prestasi yang diraihnya. “Saya senang sekali atas prestasi
kali ini,” tutur Eiden. Warga Jalan Patriot No 51 Kota Pekalongan, itu
berkeinginan ingin mengembangkan bakatnya tersebut. (H63-74)
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 17-04-2013)
Tepung Karaginan dari Rumput Laut
PEKALONGAN – Usaha budidaya rumput laut telah banyak dilakukan masyarakat di wilayah pesisir. Namun sebagian besar masih mengandalkan penjualan rumput laut dalam bentuk rumput laut kering. Padahal, banyak produk turunan yang bisa dikembangkan dari budidaya rumput laut diantaranya tepung karaginan. Terkait hal ini, Program Implementasi Teknologi Daerah (Iptekda) Lembaga Ilmu engetahuan Indonesia(LIPI) bekerja sma dengan Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan (Unikal) memberikan Pelatihan Peningkatan Produksi Tepung Karaginan dari Rumput Laut kepada siswa SMK Perikanan Irma di SMK Perikanan Irma, Sabtu (27/4).
Ketua
Program Iptekda LIPI_Fakultas Perikanan Unikal, Beni Diah Madusari
menerangkan, rumput laut merupakan penghasil karagiann yang banyak
digunakan untuk bahan pada industri makanan, minuman, farmasii, keramik,
kosmetik, textil maupun batik. Pada Industri tekstil dan batik , kata
dia, tepung karaginan berfungsi sebagai bahan pencampuran warna pada
proses mewarnai agar warna melekat pada tiap-tiap serat benang. “Selama
ini, bahan yang digunakan pada industri tekstil dan batik di impor dari
China. Dengan pelatihan ini kami berharap unit produksi SMK Perikanan
Irma bisa memproduksi tepung karaginan agar bisa dimanfaatkan perajin
batik di Kota Pekalongan,”paparnya.
Lebih Ekonomis
Menurut
dia, penggunaan tepung karaginan pada industri tekstil dan batik jauh
lebih ekonomis dibandingkan dengan bahan yang di impor dari China
tersebut. Selisihnya sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.500. Sementara itu
pada industri makanan, tepung karaginan berfugsi sebagai pengental.
Pelatihan diikuti 30 peserta, terdiri atas siswa dan guru SMK Perikanan
Irma. Untuk menunjang produksi tepung karaginan di sekolah tersebut,
Program Iptekda LIPI-Fakultas Perikanan Unikal menyerahkan bantuan mesin
penepung, mesin perajang, mesin penggiling tepung, ekstraktor,
timbangan dan sealer.
Kepala
SMK Perikanan Irma, Suswasono mengatakan, pihaknya akan segera
menindklanjuti pelatihan hari itu dengan memproduksi tepung karaginan.
“Kami akan segera memproduksi tepung karaginan,”tegasnya. Menurut dia,
selama ini, unit produksi pengolah hasil perikanan SMK Perikanan Irma
telah memproduksi rumput laut untuk beragam olahan dan turunannya.
Selain untuk minuman, rumput laut diolah menjadi stik rumput laut dan
nastar rumput laut.(K30-69)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 29-04-2013)
Warga Duwet Manfaatkan Limbah Tahu untuk Biogas
SEKITAR 60 kepala keluarga di Kelurahan Duwet, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan memanfaatkan air limbah tahu menjadi energi alternatif untuk kebutuhan memasak. Selain lebih aman, menggunakan biogas alami tersebut juga hemat, karena warga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli gas elpiji. Biogas yang berasal dari tiga unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tahu dan tempe di Kelurahan Duwet tersebut, sejak tahun 2008 telah dimanfaatkan warga sekitar yang sebagian besar merupakan produsen tahu untuk kebutuhan memasak atau pengganti gas elpiji.
“IPAL
ini dibangun oleh Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Pekalongan sekitar
lima tahun lalu. Selain sebagai tempat pembuangan limbah tahu, IPAL ini
juga dimanfaatkan untuk energi alternatif,” kata Tasurip (30), warga
setempat. Warga RT 05/01 Kelurahan Duwet itu mengatakan, selain 25
kepala keluarga di RT 05/01 yang menggunakan biogas limbah tahu, sekitar
35 rumah tangga yang berada di RT 02/01 dan RT 03/01 Kelurahan Duwet
juga mengalirkan biogas dari IPAL tahu dan tempe ke rumah masing-masing.
Dia
menjelaskan, teknologi untuk mengubah limbah menjadi biogas tidak
terlalu rumit. Limbah cair dari sari tahu dari tempat pembuatan tahu
dialirkan ke kolam penampungan yang tertutup rapat. Selama mengendap di
dalam kolam penampungan, limbah tahu mengalami proses fermentasi bakteri
yang menghasilkan biogas. “Selanjutnya, biogas disalurkan melalui pipa
paralon menuju kolam penampungan pemanfaatan di dekat bangunan IPAL. Dai
IPAL tersebut, warga menyalurkan biogas ke rumah masing-masing
menggunakan pipa paralon kecil kemudian disambungkan ke kompor gas,”
terangnya.
Lebih Aman
Menurut
warga lainnya, Kasnadi, api yang dihasilkan limbah tahu itu tidak kalah
biru dari gas elpiji produksi pabrik. Selain itu, energi biogas juga
tidak berbau dan jauh lebih aman, karena tidak khawatir akan meledak
seperti yang kerap terjadi pada tabung gas elpiji. “Hanya dengan
bermodalkan pipa atau paralon, setiap warga yang berminat memanfaatkan
biogas limbah cair tahu untuk kebutuhan memasak secara gratis, cukup
menyambungkan pipa dari IPAL ke rumah,” ujarnya. Dia mengatakan,
keberadaan tiga unit IPAL di Kelurahan Duwet sangat bermanfaat bagi
warga Duwet yang sebagian besar bermata pencarian sebagai perajin tahu.
Selain menampung limbah tahu agar tidak mencemari lingkungan sekitar,
IPAL juga menghasilkan biogas yang aman dan gratis. (marni soeyudi/06)
(SUMBER : HARIAN PEKALONGAN, 03-05-2013)
